Tuesday, July 20, 2004

Tidak Hadir di Rum

Bpk.Pdt.Drs. Dick Mak, teman kerja yang sejak Bulan Oktober Tahun 2003 bekerja sebagai dosen tetap pada STT Arastamar (SETIA) sudah membuat ringkasan dari beberapa bagian penting dari buku Profesor Dr. Jakob van Bruggen, yang berjudul Paulus. Buku ini masih dalam proses penterjemahan di bawah kewenangan Litindo. Sebagiannya dari ringkasan tersebut, yang khususnya mengenai relasi antara si Rasul Paulus dan jemaat Kristen die Rum, dapat didownload dari halaman-halaman saya pada Chainless Internet / Wifi-Assen.

Friday, July 16, 2004

Mengenai Sukukata '-Benar-' (Dikaio-)

Dalam Surat Paulus kepada jemaat Kristen di Roma istilah-istilah yang berhubung dengan sukukata '-benar-' sangat penting. Kita menemui sukukata tersebut dengan bentuk / fungsi  verbal (membenarkan / dibenarkan), nominal (kebenaran /pembenaran), serta adverbial (benar). Seringkali word stem ini adalah terjemahan dari sukukata dalam bahasa asli (Yunani) dikaio-. Tetapi masalahnya terjemahan ini bahwa istilah 'benar' juga dapat berasal dari kata-kata Yunani yang lain, seperti aleqh/ei-. Soal ini sudah saya bicarakan dalam dokumen khusus yang dapat didownload dengan gampang dari Homepage saya.

Thursday, July 15, 2004

Catatan pada terjemahan Surat Roma

Dalam edisi-edisi terjemahan Surat Roma dari Lembaga Alkitab Indonesia ternyata banyak masalah yang tinggal tersembunyi kepada para pembaca yang belum mampu membaca teks dalam bahasa asli, yaitu bahasa Yunani. Melalui link-link di bawah ini anda dapat memperoleh catatan yang bermaksud memberi penjelasan kepada naskah asli, berdasarkan Textus Receptus serta Byzantine Greek Text:

- Fasal 1
- Fasal 2
- Fasal 3
- Fasal 4
- Fasal 5
- Fasal 6
- Fasal 7
- Fasal 8
- Fasal 9
- Fasal 10
- Fasal 11
- Fasal 12
- Fasal 13
- Fasal 14
- Fasal 15
- Fasal 16

Wednesday, July 14, 2004

Polycarpus mengenai Surat Roma

Dalam suratnya kepada Philippi VI.ii si Pater Apostolicus (pimpinan kristen dari angkatan sesudah angkatan rasuli) yang bernama Polycarpus, menunjuk bahwa ia sudah mengenal isi surat-surat Paulus dengan baik sekali, termasuk Surat Roma. Dalam kalimat berikut yang merefleksi baik Roma Fasal 14:10,12 maupun 2 Korintus 5:10 kita membaca:

“Jika dengan rendah hati kita mehohon Tuhan mengampuni kita, maka kita diri sendiri juga diharap mengampuni satu sama yang lain, karena kita berdiri di hadapan mata-mata Tuhan Allah, dan kita sekalian akan menghadap di muka takhta pengadilan Kristus, dan setiap dari kita harus memberikan pertanggananjawab mengenai diri sendiri”


Dalam pengutipan yang berlangsung selanjutnya dinyatakan Polycarpus bahwa ia sudah suka sekali kepada pembacaan karangan-karangan Paulus. Kita membaca:

“Hal-hal ini, Saudara-saudara, saya menulis kepada Saudara-saudara berhubung soal kebenaran, bukan atas inisiatipnya saya sendiri saja, tetapi sebab Saudara-saudara sudah mengundang saya. Sebab bukan saya, dan bukan orang lain seperti saya bisa sanggup menjadi seimbang dengan hikmat yang bagi Sang rasul yang diberkahi, yaitu Paulus, yang pada saat kehidupannya di antara Saudara-Saudara, sudah mengajar dengan saksama dan secara bertahan terhadap orang yang hidup pada waktu itu, yaitu Firman kebenaran (...)"

Rasul Paulus sebagai pengarang Surat Roma

1/ Menurut Dunn (1993:838) belum pernah ada diskusi yang memang penting mengenai soal entah Paulus sebetulnya menjadi pengarang Surat Roma. Surat tersebut ternyata dikarang si Paulus (Fasal 1:1). Lebih penting lagi apa yang dikatakan dalam Surat ini mengenai si oknum Pualus ini, khususnya terhadap perasaannya diri sendiri mengenai panggilannya (pengutusannya) dan mengenai komitmennya (keinginannya untuk membaktikan diri) akan pengabaran Injil (Fasal 1:1, 5, 12-17, 15:15-24)…

2/ Seorang akhli penafiran yang lain, yaitu Hendriksen (1980:4-7) melaporkan lebih panjang-lebar mengenai soal authorship si Paulus. Di bawah ini saya memberi ringkasan dari sumbangannya.

a) Hampir semua akhli penafsiran setuju mengenai authorship rasul Paulus. Betul-betul banyak bukti untuk kesimpulan ini. Argumen-argumen yang diangkat untuk menyangkalnya sama sekali tidak masuk akal. Contoh dari argumen seperti ini berbunyi sedemikian:

“Lukas dalam Kitabnya yaitu Kisah para Rasul belum pernah menyinggung pendirian jemaat di Roma, jadi Paulus tidak mungkin sudah menulis surat kepada jemaat di sana.”

b) Si akhli sejarah gereja yang terbesar pada permulaan abad yang ke-4, yaitu Eusebius menghitung empatbelas surat yang dikarang oleh Paulus, dan surat Roma disebut dalam konteks yang sama sebagai satu dari antara empatbelas surat tersebut itu (Eusebius, Historia Ecclesiastica, III.iii.4,5).

c) Berita-berita yang terbuktinya setuju dengan laporan ini juga dapat ditemui dalam kerja para tokoh keakhlian teologia lain, seperti:
• Origenes (pada pertengahan Abad yang Ke-3),
• Tertullianus (akhir Abad yang Ke-2, mulai Abad yang Ke-3) dan
• Clemens Alexandrinus (akhir Abad yang ke-2).

d) Pada Abad yang Ke-18 orang sudah menemui sehelai naskah tulis dalam Perpustakaan Ambrosianum di kota Milan (Neg. Italia). Dokumen ini disebut Canon Muratori menurut nama orang yang sudah mendapatnya, yaitu Kardinal Ludovico Muratori. Canon Muratori ini mengandung daftar yang paling lama mengenai kitab-kitab Perjanjian Baru. Walaupun daftar ini sama sekali tidak sempurna isinya, dan juga ditulis dalam bahasa Latin yang ekspresinya bersifat agak kaku, serta didalamnya juga ada judul-judul kitab-kitab tidak kanonik yang pada zaman kuno dipergunakan oleh jemaat di Roma, namun Canon Muraturi memberi informasi penting mengenai Surat Roma:

“Sekarang surat-surat Paulus, apapun kitab-kitab ini sebenarnya mengadung, pada waktu manapun mereka ditulis, dan kepada siapapun mereka dialamatkan, maka surat-surat tersebut sendiri menerangkan kepada orang yang berkeinginan untuk mengertinya. Pertama-tama dia (Paulus) mengarang surat panjang kepada orang Korinthus…, selanjutnya kepada orang Galatia…, dan kepada orang Romawi mengikut urutan Kitab-kitab Suci, dengan pesan yang teguh bahwa pokok yang terpenting dalam Kitab-kitab ini adalah Kristus.”

e) Dari kerja Irenaeus (akhir Abad yang Ke-2) kita mendapat berita yang berikut:

“… Apalagi orang yang memperoleh anugerah dan kebenaran dengan berlimpah-limpah, maka mereka memerintah sebagai raja dalam kehidupan mereka oleh Yang Satu-satunya, yaitu Kristus Yesus”

Ternyata bagian ini mengandung pengutipan dari Surat Roma Fasal 5:17. Dalam konteksnya karangannya (Adversus Haereseis, III.xvi) sudah dinyatakan Irenaeus dengan jelas bahwa ia menganggap Paulus sebagai penulis surat Roma.

f) Saat pendek sebelum Tahun 144 Marcion (yang terkenal sebagai pengajar yang sesat) datang di Roma. Ia juga membuat suatu Canon atau daftar Kitab-kitab Suci, yang mengandung sekurang-kurangny kitab Injil menurut Lukas dan surat-surat Paulus, dan ternyata Surat Roma termuat dalam daftar ini. Surat Roma diakui si Marcion sebagai karangan pokok si Rasul Paulus.

BIBLIOGRAFI:

Dunn 1993 - J.D.G.Dunn, Letter to the Romans. Dalam: Dictionary of Paul and His Letters, edited by Gerald F.Hawthorne, Ralph P.Martin & Daniel G.Reid. Intervarsity Press. Downers Grove / Leicester. Hlm. 838 – 850.

Hendriksen 1980 – William Hendriksen, New Testament Commentary. Romans, Volume I: Chapters 1 – 8. The Banner of Truth Trust.

Surat Roma

Pada Tahun 2002 serta Tahun 2004 saya sudah mengajar beberapa bulan pada Sekolah Tinggi Teologia Arastamar (SETIA) di Jakarta (Republik Indonesia).
 
Di antara lainnya bahan perkuliahan terdiri dari Eksposisi Surat Roma. Maksud saya dengan blog ini adalah publikasi beberapa bahan yang barangkali berguna untuk kaum pembaca Perjanjian Baru dalam Bahasa Indonesia. Di samping itu saya ingin meneruskan link-link yang menurut pendapat saya cukup penting sebagai orientasi terhadap dunia Agama Reformasi dalam tradisi Yohanes Kalvin.