1/ Menurut
Dunn (1993:838) belum pernah ada diskusi yang memang penting mengenai soal entah Paulus sebetulnya menjadi pengarang Surat Roma. Surat tersebut ternyata dikarang si Paulus (Fasal 1:1). Lebih penting lagi apa yang dikatakan dalam Surat ini mengenai si oknum Pualus ini, khususnya terhadap perasaannya diri sendiri mengenai panggilannya (pengutusannya) dan mengenai komitmennya (keinginannya untuk membaktikan diri) akan pengabaran Injil (Fasal 1:1, 5, 12-17, 15:15-24)…
2/ Seorang akhli penafiran yang lain, yaitu
Hendriksen (1980:4-7) melaporkan lebih panjang-lebar mengenai soal
authorship si Paulus. Di bawah ini saya memberi ringkasan dari sumbangannya.
a) Hampir semua akhli penafsiran setuju mengenai
authorship rasul Paulus. Betul-betul banyak bukti untuk kesimpulan ini. Argumen-argumen yang diangkat untuk menyangkalnya sama sekali tidak masuk akal. Contoh dari argumen seperti ini berbunyi sedemikian:
“Lukas dalam Kitabnya yaitu Kisah para Rasul belum pernah menyinggung pendirian jemaat di Roma, jadi Paulus tidak mungkin sudah menulis surat kepada jemaat di sana.”
b) Si akhli sejarah gereja yang terbesar pada permulaan abad yang ke-4, yaitu Eusebius menghitung empatbelas surat yang dikarang oleh Paulus, dan surat Roma disebut dalam konteks yang sama sebagai satu dari antara empatbelas surat tersebut itu (Eusebius, Historia Ecclesiastica, III.iii.4,5).
c) Berita-berita yang terbuktinya setuju dengan laporan ini juga dapat ditemui dalam kerja para tokoh keakhlian teologia lain, seperti:
• Origenes (pada pertengahan Abad yang Ke-3),
• Tertullianus (akhir Abad yang Ke-2, mulai Abad yang Ke-3) dan
• Clemens Alexandrinus (akhir Abad yang ke-2).
d) Pada Abad yang Ke-18 orang sudah menemui sehelai naskah tulis dalam Perpustakaan Ambrosianum di kota Milan (Neg. Italia). Dokumen ini disebut Canon Muratori menurut nama orang yang sudah mendapatnya, yaitu Kardinal Ludovico Muratori. Canon Muratori ini mengandung daftar yang paling lama mengenai kitab-kitab Perjanjian Baru. Walaupun daftar ini sama sekali tidak sempurna isinya, dan juga ditulis dalam bahasa Latin yang ekspresinya bersifat agak kaku, serta didalamnya juga ada judul-judul kitab-kitab tidak kanonik yang pada zaman kuno dipergunakan oleh jemaat di Roma, namun Canon Muraturi memberi informasi penting mengenai Surat Roma:
“Sekarang surat-surat Paulus, apapun kitab-kitab ini sebenarnya mengadung, pada waktu manapun mereka ditulis, dan kepada siapapun mereka dialamatkan, maka surat-surat tersebut sendiri menerangkan kepada orang yang berkeinginan untuk mengertinya. Pertama-tama dia (Paulus) mengarang surat panjang kepada orang Korinthus…, selanjutnya kepada orang Galatia…, dan kepada orang Romawi mengikut urutan Kitab-kitab Suci, dengan pesan yang teguh bahwa pokok yang terpenting dalam Kitab-kitab ini adalah Kristus.”
e) Dari kerja Irenaeus (akhir Abad yang Ke-2) kita mendapat berita yang berikut:
“… Apalagi orang yang memperoleh anugerah dan kebenaran dengan berlimpah-limpah, maka mereka memerintah sebagai raja dalam kehidupan mereka oleh Yang Satu-satunya, yaitu Kristus Yesus”
Ternyata bagian ini mengandung pengutipan dari Surat Roma Fasal 5:17. Dalam konteksnya karangannya (Adversus Haereseis, III.xvi) sudah dinyatakan Irenaeus dengan jelas bahwa ia menganggap Paulus sebagai penulis surat Roma.
f) Saat pendek sebelum Tahun 144 Marcion (yang terkenal sebagai pengajar yang sesat) datang di Roma. Ia juga membuat suatu Canon atau daftar Kitab-kitab Suci, yang mengandung sekurang-kurangny kitab Injil menurut Lukas dan surat-surat Paulus, dan ternyata Surat Roma termuat dalam daftar ini. Surat Roma diakui si Marcion sebagai karangan pokok si Rasul Paulus.
BIBLIOGRAFI:
Dunn 1993 - J.D.G.Dunn, Letter to the Romans. Dalam: Dictionary of Paul and His Letters, edited by Gerald F.Hawthorne, Ralph P.Martin & Daniel G.Reid. Intervarsity Press. Downers Grove / Leicester. Hlm. 838 – 850.
Hendriksen 1980 – William Hendriksen, New Testament Commentary. Romans, Volume I: Chapters 1 – 8. The Banner of Truth Trust.